Kamis, 08 Maret 2012

NasEhat Diri :

NasEhat Diri :
_______________
Jangan seperti lalat yang hanya hinggap di atas luka.
Jangan menginjak_injak kehormatan orang laEn.
Mengotak_atik aib mrka.
Dan merasa senang krn..nya
Bahkan menginginkan kejatuhan mereka.

___''Sadarlah Hai Diri
Jangan menyalakan tungku di dalam dada berupa permusuhan.
Kedengkian dan kebencian org_laen.
Krn api permusuhan, kedengkian dan kebencian ini adlah azab yg abadi.

''Memikirkan Masa lalu adalah kebodohan dan kegilaan.
Ibaratnya org yg menumbuk tepung,
Yang mengergaji serbuk kayu,Dan mengeluarkan Mayat dr kuburan.

Jangan buat musuh2 kita gembira.Dg kemarahan dan kesedihan kita.
So,..Nikmati Hidup ini dg Damai dan tenang.
Dan Enyahlah jauh_jauh Niatan untuk membalas Dendam.
Berusaha untuk mEmaafkan siapa saja yg berbuat jahat kpd kt it lbH MULIA.

‘Afwan Akhii, Kau Saudaraku Tapi Bukan Mahramku…

‘Afwan Akhii, Kau Saudaraku Tapi Bukan Mahramku…


Akhii, kutuliskan risalah ini bagimu. Bukan karena apa. Kau adalah saudaraku, Akhii fillah. Karena Allah Ta’ala, bukan Akhii fii nasab yang mengharamkan pernikahan dan menghalalkan hubungan mahram.1

Akhii, sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jemari Ar Rahman. Maka beruntunglah orang yang dihadapkan hatinya pada ketaatan pada Allah Ta’ala. Sungguh benarlah doa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam panjatkan, “Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘alaa tha’atika” (Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkan hati kami di atas ketaatan pada-Mu)2

Akhii, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah3. Manusia, ya Akhii. Tak terkecuali. Laki-laki maupun wanita.
Tahukah kau wahai Akhii, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya yang artinya, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”4

Dan agama kita yang mulia juga telah mengajarkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis yaa, Akhii. Bila kita tapaki perjalanan salaful ummah, kita akan temukan betapa mereka menjaga adab-adab tersebut.

Maka tidak layak bagi kita untuk bermudah-mudah dalam bergaul dengan lawan jenis. Janganlah bermain-main dengan kehormatan, yaa Akhii. Allah Ta’ala selalu mengawasi kita di manapun dan kapanpun. Apatah itu dalam kamar tertutup rapat, ketika kau sedang asik ber-SMS dengan wanita yang bukan mahrammu tanpa keperluan yang mendesak. Sama sekali bukan untuk hal yang membawa mashlahat, hanya untuk mengatakan,
“Ap kbr, Ukhti? Lg sbk ap skrng?”
“Smgt ^_^”
“Ttp senyum nggih :-) ”

Atau untuk sekadar mengirimkan nasehat. Entah itu terjemah Al Qur’an, potongan hadits, atau perkataan ulama. Apa maksud yang ada dalam hatimu, yaa Akhii? Banyak teman-teman ikhwan yang lebih berhak kau beri perhatian dan nasehat. Na’am, murni perhatian dan nasehat, tanpa tendensi apapun.

‘Afwan ‘Akhii, bukannya kami terlalu sombong untuk menerima nasehat darimu. Akan tetapi, bagi kami, cukup teman-teman shalihah tempat untuk berbagi rasa. Cukup bagi kami, para asatidz dan asatidzah5 yang mendakwahi kami. Cukuplah majelis-majelis ilmu dan buku-buku dari para ulama tempat kami mencari tahu tentang agama.

Tahukah yaa Akhii, terkadang syaithan menghiasi keburukan sehingga menjadi tampak indah. Bahkan terkadang syaithan membuka sembilan puluh sembilan pintu kebaikan untuk menjerumuskan manusia kepada satu pintu keburukan.6

Akhii, Ibnu Taimiyah pernah berkata yang artinya, “Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah.”7

Yaa Akhii, tidakkah kau ingin meneladani Yusuf ‘Alaihis Salam? Seorang pemuda yang menjaga iffah-nya yang dijanjikan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya.8

Yaa Akhii, mungkin kau sudah pernah mendengar sebuah hadits dari Nawas Ibni Sam’an radiyyallahu anhu yang artinya, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.”9

Yaa Akhii, kebahagiaan sejati tidak akan diperoleh dengan cara yang haram. Percayalah itu. Cara ini hanya akan menimbulkan kesusahan dan kerusakan pada diri serta terbuangnya harta dengan sia-sia. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.10

Terakhir yaa Akhii, saya akan nukilkan perkataan Salman Al Farisi radiyyallahu ‘anhu dari Ja’far bin Burqan yang artinya, “Ada tiga orang yang membuatku menangis dan tiga orang lagi membuatku tertawa. Aku tertawa melihat orang mengejar dunia sedangkan kematian telah mengintainya, orang berbuat lalai berbuat padahal dirinya tak pernah dilupakan, dan orang banyak tertawa, sedangkan ia tidak tahu apakah Allah murka ataukah ridha kepadanya. Dan aku menangis karena kepergian orang-orang yang dicintai, yaitu kepergian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya, kedahsyatan yang sangat mengerikan saat berada di pintu kematian, dan saat berdiri di hadapan Rabb semesta alam, yaitu ketika aku tidak mengetahui apakah aku akan dikembalikan ke surga atau ke neraka.”11

Kuharap risalah ini memperberat timbangan amal kebaikanku kelak. Pada hari di mana harta dan anak takkan berguna kecuali orang yang menghadap Allah Ta’ala dengan hati yang selamat.12
Wallahul musta’an.

1. Mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi, bisa karena nasab, persusuan, atau pernikahan. Di Indonesia, istilah ini rancu dengan muhrim. Padahal istilah yang tepat adalah mahram, karena muhrim berarti orang yang sedang berihram (-pen).
2. HR Muslim no. 2654 dari Shahabat ‘Abdullah bin’Amr bin Al Ash Radiyallahu ‘Anhuma
3. Lihat QS An Nisaa: 28
4. HR. Al-Bukhari dalam An-Nikah (5096), Muslim dalam Adz-Dzikr (2740)
5. Jamak dari ustadz dan ustadzah (-pen)
6. Perkataan Hasan bin Shalih rahimahullah
7. Perkataan ini dinukil oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin
8. Lihat HR Bukhari no 660, Muslim 1031 dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, yang artinya, “Tujuh golongan yang kelak akan dilindungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu dalam keadaan demikian dan berpisah pun dalam keadaan demikian pula, laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah namun ia menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, hingga kedua matanya bercucuran air mata.”
9. HR Muslim, dimuat dalam Bulughul Maram, Kitabul Jami’ bab adab
10. Terjemah HR Ahmad V/78,79
11. Atsar ini tercantum dalam kitab Rauhuz Zaahidiin yang merupakan ringkasan dari kitab Hilyatul Auliyaa’
12. Lihat QS Asy Syu’aara’: 88-89

[Tips Menolak ucapan "Met Milad"]

[Tips Menolak ucapan "Met Milad"]

Bismillah... 

Katakan padanya, "afwan... silahkan doakan ana setiap hari agar selalu dalam kebaikan, namun ana minta jangan khususkan hari kelahiran ana seolah paling istimewa dibanding hari lainnya kecuali hari-hari yang memang telah ditetapkan dalam syari'at Islam... kenapa ? karena tidak pernah ada contohnya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam mengucapkan selamat hari lahir pada para sahabatnya... dan tidak pernah hadits tersebut*) ditafsirkan oleh para salafus shalih untuk tujuan mengucapkan selamat hari lahir... Allahul musta'an. Jadi, sekali lagi ana tegaskan... ana tidak merayakan ulang tahun... karena ana tidak ingin tasyabuh dengan orang-orang kafir... na'udzubillah tsumma na'udzubillah..."

*) Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Kuraib dari Zaid bin Habbab dari Muawiyah bin Shalih dari Amr bin Qais dari Abdullah bin Busr Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang terbaik?” Beliau bersabda,
"Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. At-Tirmidzi)

(Ssstt... yang gak merasa jangan tersinggung ye)

:)

Selasa, 17 Januari 2012

Doa untuk pengantin baru


“Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair”
Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang mahupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majjah)

selamat  menempuh hidup baru ya sahabat ku Utin fira dan  Iwan

yg telah melengkapi setengah diennya pada tgl 16 januari 2012. Semoga Allah memberikan berkah, bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah.aamiin
 kapan ya nyusul ****

Senin, 16 Januari 2012

Hati


Harum semerbak bunga melati di taman puri
Dijadikan hiasan mahkota mempelai putri
Tanda/lambang kesucian dan kelembutan hati
Lembutnya hati bila berhiaskan Asma Ilaahi

Lembut tampaknya buih dihempas ombak
Terpukau mata seakan kabut yang berarak
Padahal buih sisa hempasan perasaan riak-riak
Banyak manusia seakan dirinya berakhlaq
Padahal hatinya senantiasa memberontak
Akui berhati lembut, ternyata keras berpijak.

Baru disadari ternyata diri banyak tertipu
Menyangka hati telah lembut
Menyangka diri telah beriman
Menyangka diri telah berbuat baik
Menyangka dan menyangka
Yang selalu diulang dan menjadi bayangan diri
Bukankah ini khayalan yang pasti?


Kini... terlihat batu telah berada dalam suatu proses
Ternyata batu yang keras bukan saja dapat dipecahkan
Melainkan dapat pula dihaluskan laksana tepung
Ternyata disini pulalah letak ketinggian mutunya karena telah berubah fungsi selaku penghalus dan pengokoh suatu bangunan.

Oh... inikah maksud pelajaran dari melembutnya sebongkah batu
Tertunduk wajah menyimpan rasa malu
Seulas cibiran menukik di diri sambil berkata.....
Batu yang keras saja ternyata sabar memproses diri
Lalu bagaimana diri ini: “HATI” hakikatnya
Telah tercipta dalam kondisi lembut
Tak mampu berproses menuju kelembutan
Mengapa diri tak merasa malu dengan kekerasan hati
Bukannya hati yang mengeras.... tetapi nafsulah yang menjadikan hati tampil mengeras

Sehingga tak mampu hati tersentuh kelembutan Ilaahi
Sehingga tak mampu hati menangkap isyarat berhikmah
Sehingga tak mampu hati bergetar dan menangis,
Bila diingatkan dan disentuh ayat-ayat Al Qur’an.
Oh alangkah keras dan membatunya hati...

Saudaraku yang dikasihi Allah, berdasarkan rangkaian dan untaian kata bermakna di atas, maka diri yang senantiasa bertafakur kepada Allah dapat mengenal dan mengetahui tingkat kekerasan hati pada setiap saat tertentu, karena tolok ukur yang digunakan telah disediakan yaitu: tersentuhnya hati apabila dikumandangkan ayat-ayat Al Qur’an. Tersentuhnya hati oleh ayat-ayat Al Qur’an sifatnya otomatis dan tidak dapat dibuat-buat. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa pertolongan dan petunjuk Allah mustahil hati yang keras itu dapat berubah menjadi lembut. Namun Allah-pun tidak akan membukakan si manusia itu tanpa ada upaya si manusia itu sendiri untuk membuka hatinya. Disinilah bukti bahwa Allah menjamin penuh kebebasan manusia untuk menentukan sikap terhadap kekerasan hati yang dimilikinya.

Suatu hal yang perlu disadari bahwa selamanya hati tak akan berfungsi bila tali rasa rusak dan mati.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Renungan untuk Para Wanita dan Lelaki


Renungan untuk Para Wanita dan Lelaki

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, pikiran, dan perasaan lelaki pun akan resah. Masih mencari, walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan Siti Hawa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri ataupun puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus (baca; bengkok), tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logis memang, kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah SWT, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh Allah. Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya.

Jangan coba menjinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar. Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita. Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, maka kenalkanlah mereka kepada Allah, Dzat yang kekal. Disitulah kunci utamanya.

Akal mereka setipis rambutnya, maka tebalkan dengan ilmu. Hati serapuh kaca, maka kuatkanlah dengan iman. Perasaan mereka selembut sutera, maka hiasilah dengan akhlak mulia. Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Allah. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara ataupun women gladiator.

Bisikkanlah ke telinga mereka, bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan diri. Hal itu bukanlah diskriminasi Allah SWT. Sebaliknya, disitulah kasih sayang Allah padanya, karena dari rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan laki-laki berwajah negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lainnya.

Tidak akan lahir “Superman” tanpa “Superwoman”. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka sendiri pula yang membengkokkan.

Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh perempuan, daripada perempuan yang dirusakkan oleh lelaki. Sebodoh-bodohnya seorang perempuan, bisa menundukkan sepandai-pandainya seorang lelaki. Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhannya.
Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini, bukan saja banyak boss telah kehilangan sekretarisnya, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapak akan kehilangan putrinya.

Bila seorang wanita durhaka, dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Dan, wahai para lelaki, jangan hanya mengharapkan ketaatan dari seorang wanita, namun binalah kepemimpinan dalam dirinya terlebih dahulu. Pastikan, sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri terlebih dahulu kepadaNya. Jinakkanlah diri menuju Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita. Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah, jika pribadi belum lagi seperti Ali bin Abi Thalib.

Wallahualam Bishawwab



Selasa, 14 Desember 2010

♥ Untukmu Calon Imamku yang Tertulis Di Lauhul Mahfudz ♥

♥ Untukmu Calon Imamku yang Tertulis Di Lauhul Mahfudz ♥

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Wahai kau pasangan tulang rusukku
Siapa & dimanakah kau aku menunggu
Saat khitbah kau nyatakan padaku
Kuharap saat itu indah dalam penantianku

Aku hanyalah sebutir pasir dihamparan luas
Dilahiran dengan suka cita
Dibesarkan dalam kasih keluarga
Dengan harapan suatu saat aku bisa bahagia
Menemukan kekasih sejati yang memberikan cinta
Mengasihi dengan tulus apa adanya

Wahai kau pasangan tulang rusukku
Harapan tulus kuhatur untukmu
Semoga kau bisa berikan semua itu
Menjadikanku insan bahagia dengan kasihmu
Membuatku dekat pada Illahi Robbi ku
Selalu merindukan kehadiranmu
Tuk beribadah bersama dalam naungan kasih sayangmu
Menciptakan istana tahajud dalam sujud panjang bersamamu
Menggapai kerido'an dan surga Illahi Robbi ku

Saat janji indah sehidup semati kau ucap untukku
Disaat kau halalkan aku bagimu
Semoga saat itu adalah awal pengabdianku
Menjadi makmum yang sholeha bagimu
Mengabdikan diri sepenuh jiwaku
Berjuang bersama menegakkan panji islam itu tekadku

Kau adalah yang terindah bagiku
Segala ucapanmu adalah sebuah titah bagiku
Selama itu baik dalam syari'atku
Dengan ikhlas aku akan jalani n menjujung tinggi perintahmu
Bersama arungi bahtera kehidupan baru
Menciptakan keluarga sakinah mawardah warrohmah n barokah
Menjadi madrasah indah bagi buah hati kita
Membentuk mujahid&mujahidah
Yang ditangannya ada semangat jihad
Menegakkan panji-panji islam
Berjuang dengan hati n jiwanya sebagai syuhada'

Dengan balutan kasih sayang yang indah
Dengan keterbatasan yang ada padaku
Kau hadir sebagai penyempurnaku
Rengkuh aku dalam kasihmu saat aku berada dalam kelemahanku

Ketika amarah merajai hidupku
Jadikan dirimu penyejuk hati dengan senyuman tulus n perhatianmu
Bimbing aku dengan kasih lembut mu
Agar dunia ini selalu indah bersamamu
Aku adalah tulang rusuk yang bengkok
Akan tetap bengkok jika kau biarkan itu
Akan patah jika kau paksa luruskan aku

Hanya kasih lembutmu yang bisa lakukan itu
Karena kau adalah nahkoda bagiku
Ku hanya ingin gapai keridhoanmu wahai pasangan tulang rusukku
Karena ridhomu adalah ridho Illahi Robbii ku
Kala ikhlasmu menghantarkanku ke surga itu
Saat diri ini menutup mata meninggalkanmu
Untaian do'a kan senyuman ikhlas kan mengantarkanku
Karena kau adalah kunci surga itu.